Tanda tanya rasa
(Bagian pertama dari tetralogi si aku)
Semakin hari semakin suram bagiku. Serasa Aku semakin layu, lemah dalam raga yang nampak saja bugar. Aku tahu, ada sesuatu yang mengganggu jiwaku. Hal yang tidak berwujud, tidak berupa, dan tidak pula terlihat. Aku sendiri tidak tahu apa. Dalam kamar yang sempit dan gelap, aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Sembari pikiranku kalut mencari jawaban, aku akan menamainya, Rasa.
Perlahan semuanya berubah. pemandangan alam dalam benakku berganti dengan pemandangan dirinya. Gunung dan lautan itu memang indah. Aku sendiri pun terpesona. Namun ternyata gunung yang teramat besar itu, dan lautan yang terlampau luas itu dikalahkan oleh dia yang hanya manusia biasa.
Aku tak tahu kenapa. Dia bahkan tidak berbuat apapun kepadaku. Tidak seperti gunung yang selalu memberikanku udara segar di setiap pagi, atau lautan yang memainkan musik ombak yang merdu untukku di sore hari.
Lalu mengapa dia bisa mengalahkan keindahan alam yang Tuhan ciptakan? Aku mencoba merenungkan. Alhasil, bukan pencerahan yang kutemukan melainkan pertanyaan yang membingungkan.
Mengapa kecantikan gunung dikalahkan oleh parasnya yang menawan?
Mengapa pula musik ombak yang merdu itu dikalahkan oleh suaranya yang menenangkan jiwa?
Lama kemudian, dalam kekalutan pikiran aku menemukan setitik terang. Semua itu ternyata berasal dari hatiku. Hal yang kusebut Rasa itu merasuk ke dalam hati, lalu keluar menuju pikiran dan akhirnya mencampuri persepsi ku tentang keindahan. Sehingga apa yang kusebut indah, pasti adalah dirinya.
Aku ingin memberi nama yang pantas. Bukan hanya sekedar Rasa. Kata itu terlalu sederhana. Aku ingin mencari kata dengan kedalaman makna.
Aku ingin menamainya Suka. Tapi yang aku tahu, suka pasti punya alasan. Seperti lebah yang suka dengan mawar yang menyediakan nektar. Atau burung yang suka dengan beringin karena memberi perlindungan. Sedangkan dia tidak memberi apapun, namun aku dibuat butuh dengannya. Aku sadar, perasaan ini lebih dari sekedar suka.
Aku ingin menamainya Sayang. Tapi bukankah sayang berarti ikhlas menerima segala kekurangan?. Seperti seorang ibu yang sayang kepada anaknya walaupun nakal dan manja. Atau seorang guru yang sayang kepada muridnya yang bahkan tidak memberi hormat kepadanya. Namun aku sendiri tidak tau kekurangan dirinya. Yang kulihat dia begitu sempurna, dan aku dibuat menerima. Aku pun sadar, perasaan ini bukan sekedar sayang.
Mungkin aku akan menamainya Cinta. Yang aku tahu, cinta datang tanpa alasan. Cinta juga tidak akan menampakkan kekurangan. Cinta adalah anugerah dari Tuhan kepada hamba-Nya, untuk menunjukkan bahwa hidup di dunia bukan hanya tentang kesengsaraan dan penderitaan.
Tapi, bukankah cinta memberikan semangat kepada yang mengalaminya?
Bukankah cinta akan menguatkan jiwa?
Bukankah pula cinta akan membuat hidup ini lebih berwarna?
Lalu mengapa aku merasa suram? Mengapa aku merasa layu dalam raga yang terlihat baik baik saja?
Aku keluar menuju beranda. Aku sadar, kamar yang gelap itu tidak dapat menerangi pikiranku. Aku melihat langit yang dihiasi awan-awan putih. Dibawahnya, gunung yang dibalut pohon hijau itu seakan tersenyum kepadaku. Aku menanggapinya dengan dingin. Aku bergumam "wahai sang gunung, dapatkah kau memahami apa yang aku rasakan? Mengapa kau selalu tersenyum kepadaku yang bahkan tidak memberi apapun kepadamu?"
Tidak ada jawaban yang kudapatkan. Aku masih bingung. Ditengah hariku yang suram, dua ekor merpati melewati pandanganku. Mataku beralih mengikuti mereka. Seekor jantan dan betina. Tampak mereka terbang beriringan, lalu hinggap di dahan pohon bersebelahan. Aku melihat mereka begitu bersemangat. Si jantan menyanyikan bekurnya yang khas, lalu disambut si betina dengan anggukan kepala yang anggun tanda penerimaan. Mereka nampak saling mencintai.
Aku memandangi merpati itu lama sekali. Dalam sanubariku, aku berharap menjadi si jantan, dan dia menjadi si betina. Sepasang merpati yang saling menyambut dengan hangat, terbang dengan sayap cinta dan hinggap di pohon kasih sayang. Namun nampaknya dia bukan merpati, melainkan cendrawasih betina yang menunggu si jantan datang dengan bulu indah nan memikat. Bagaimana mungkin cendrawasih tertarik dengan merpati yang hanya mengandalkan nyanyian merdu? Bagaimana mungkin seekor merpati meraih cendrawasih hanya bermodal kasih?
Aku masih larut dalam keluhan. Kedua merpati itu lalu menyadari kehadiranku dari kejauhan. Aku seperti mengganggu dunia mereka. Keduanya lantas terbang menjauh. Aku dibiarkan sendiri, selagi mereka pergi menikmati cinta. Aku ditinggalkan dalam keadaan pilu. Aku beranjak kembali ke kamarku yang sempit dan gelap itu, ditemani nuansa kesuraman dan kesepian. Aku baringkan diriku di kasur kapuk tua. Aku lemaskan seluruh badan beserta jiwaku yang lemah. Akhirnya, aku menyerah. Aku pejamkan mata dengan perlahan. Pikiranku tidak mampu memberikan jawaban. Rasa di hatiku masih menjadi tanda tanya.
Posting Komentar
Posting Komentar