Kisah Kakek Tua dan Radionya
Suatu waktu, saya berkunjung ke rumah nenek. Sebuah kebiasaan yang saya lakukan setiap akhir pekan. Rumah nenek saya berada di sebuah kampung di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Untuk kesana perlu waktu dua jam, lalu melewati jalan kecil berbatu sejauh tiga kilometer dan sebuah jembatan gantung yang dibuat seadanya. Di kampung itu tidak ada internet. Penduduknya baru menikmati listrik sekitar tahun 2018. Padahal jaraknya hanya tiga kilometer dari jalan poros provinsi.
Saya sering menghabiskan akhir pekan disana. Suasananya damai dan tenang. Saya selalu membawa beberapa buku untuk dibaca. Ditemani pemandangan alam, suara burung dan gesekan daun serta secangkir kopi panas. Ah, Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Di kampung itu penduduknya sangat bersahaja. Mereka bekerja sebagai petani cokelat, sawit atau jagung. Salah seorang yang saya kenal adalah Pak Nop.
Pak Nop orangnya baik dan ramah. Beliau dan keluarganya hidup dari hasil mengolah kebun yang tak jauh dari rumahnya. Pak Nop sudah siap berkebun ketika terbit fajar, dan baru pulang ketika hari menjelang sore.
Hari itu, Pak Nop datang ke rumah nenek. Kebetulan saya juga datang berkunjung. Mereka bercerita banyak hal. Tampak dari mereka raut wajah sumringah. Padahal, mereka hanya bercerita kegiatan mereka sehari hari.
Saya menyimak dari kejauhan. Pak Nop bercerita, bahwa beliau kadang merasa suntuk di kebun, karena tidak ada hiburan. Radio tua yang menemani hari beliau selama ini telah rusak. Mungkin tidak lengkap rasanya beliau beristirahat sambil minum kopi, tanpa ditemani alunan musik radio tuanya.
Mendengar cerita Pak Nop, saya terpikir untuk membelikan radio baru untuk beliau. Saya menyampaikan niat itu kepada nenek, dan di sambut baik olehnya. Menurut nenek, beliau memang suka mendengar radio. Pak Nop memang ingin membeli radio baru, namun masa panen belum tiba. Harga radio di daerah itu lumayan mahal.
Besoknya saya pergi ke pasar terdekat. Saya berkeliling seharian, namun tidak menemukan pedagang yang menjual radio. Para pedagang tersebut memang berpindah-pindah tempat. Mereka mencari pasar yang ramai pada hari tertentu.
Akhirnya, saya terpikir untuk pesan radio di toko online. Harganya terjangkau, namun butuh beberapa hari untuk sampai ke tujuan. Karena tidak ada pilihan lain, sepulangnya dari rumah nenek, saya memesan radio tersebut di toko hijau.
Butuh lima hari untuk radio tersebut sampai ke rumah saya. Tapi tak mengapa, saya bisa membawa radio tersebut saat akhir pekan. Dalam pikiran saya, Pak Nop pasti sangat senang dengan hadiah ini.
Dan Benar saja. Saat saya sampai kerumah nenek, Pak Nop sudah menunggu disana. Ternyata, nenek bercerita bahwa saya akan membelikan beliau sebuah radio.
Saya menenteng paket radio itu dengan semangat. Beliau tak mau kalah. Dengan senyum lebarnya, beliau meraih paket tersebut. Tangan beliau gemetar. Saya menatap matanya yang nampak berkaca-kaca.
"Terima kasih Lee"
Ucap beliau dengan dialek lokal. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Beliau segera pamit, bergegas pulang membawa radio tersebut untuk ditunjukkan kepada istrinya. Saya yang penasaran, mengikuti dari belakang.
Dengan sisa tenaga tuanya, beliau berjalan melewati jalanan kampung yang berbatu. Langkahnya lebih cepat dari biasanya. Nampak Pak Nop begitu bersemangat. Paket radio yang belum dibuka itu beliau dekap di dada.
Sesampainya di rumah, beliau segera menemui istrinya. Usia mereka hampir sama. Melihat paket itu, mereka berdua nampak bahagia. Mereka menuju dipan, tempat mereka beristirahat dan bernostalgia. Dengan gembira, mereka membuka paket itu menggunakan sebuah pisau usang.
Raut wajah mereka nampak sangat berbahagia. Senyumnya merekah. Mata keduanya nampak basah. Mereka memasang baterai besar itu dengan hati-hati, lalu memutar knob tuning radio itu dengan perlahan. Mereka mencari siaran 96.0 FM. Siaran RRI untuk wilayah Mamuju dan sekitarnya.
Saya yang duduk tak jauh dari mereka pun terdiam. Dalam hati saya berujar "Mengapa Begitu mudahnya mereka bahagia?. Padahal itu hanya sebuah radio. Apa yang spesial? Tidak ada gambar, melainkan hanya suara. Namun nampaknya begitu berharga".
Saya tidak berani bertanya kepada beliau secara langsung. Saya hanya melihat mereka dan terdiam. Sesekali saya meminum kopi panas yang dibuat istri Pak Nop. Suasana bahagia itu masih terasa di rumah mereka.
Tak lama saya pun pamit pulang. Mereka mengantar saya sampai ke beranda. Belum lepas senyum bahagia itu dari wajah Pak Nop dan istrinya. Radio itu bahkan masih dipegang. Saya pergi menuruni jalanan berbatu, hingga tak tampak lagi atap rumah mereka.
Kejadian di rumah Pak Nop membekas di ingatan saya. Saya jadi merenungkan diri saya yang kadang masih mengeluh. Memang, di zaman yang serba instan ini sudah terlalu banyak perbandingan. Sementara dikampung yang serba terbatas, orang lebih mudah bahagia karena perbandingan mereka lebih sedikit. Saya sadar Pak Nop telah menginspirasi saya, bahkan tanpa kata-kata.
Beliau bukan orang besar atau publik figur yang kata-katanya selalu dimaknai inspiratif bagi banyak orang. Beliau hanya menjadi dirinya, seorang yang sederhana dan selalu bersyukur. Dari beliau, saya belajar satu hal yang sangat penting dalam hidup, yaitu cara bahagia dengan sederhana.

Posting Komentar
Posting Komentar