Rasa yang terungkap
(Bagian kedua dari tetralogi si aku)
Belum lepas bayang-bayang kesuraman dalam diriku. Rasa yang menjadi tanda tanya, menghalangiku menemukan kedamaian. Aku masih meringkuk dalam selimut bulu lembut, ditemani hujan yang membawa air kehidupan. Aku kira diriku sudah menyerah pada nasib, lalu mencari pembenaran dalam prinsip. Ternyata tidak, aku masih berusaha mencari walau mungkin tak berarti. Aku menanti rintik hujan untuk pergi dan tak terdengar lagi, perlahan namun pasti.
Disaat hujan telah berlalu, aku bangkit dari kasur kapuk tua yang kaku, lalu berjalan menuju bukit dengan pakaian biru, warna yang melambangkan kesetiaan dan kejujuran. Sebenarnya aku malu, karena kepada siapa kesetiaan dan kejujuran akan ku berikan? Aku hanya memakainya sebatas perhiasan dan kesan-kesan. Aku melangkah pelan menuju puncaknya, dimana sang senja telah menunggu diatas disana.
Diatas bukit ini, aku memperoleh bekal kehidupan. Disini pula aku gantungkan harapan akan masa depan. Aku duduk menghadap langit senja, berharap seseorang akan datang dengan gembira. Aku terus menunggu, hingga gerombolan semut hitam melewati punggung kakiku. Mungkin mereka tidak menyadari, bahwa seorang pemuda sedang duduk terdiam penuh harap. Gerombolan semut itu berbaris dengan rapi, acuh melewati ku begitu saja. Mereka meninggalkanku yang terus menunggu, sementara sang senja semakin tenggelam di batas cakrawala.
Langit semakin gelap sementara aku masih berharap. Pandanganku lurus menyaksikan senja yang hilang berganti malam. Aku mengira hariku akan menjadi kelam. Tiba-tiba saja, aku mendengar suara alas sepatu yang menyeret debu di jalan berbatu. Mataku beralih menuju asal suara itu. Bagaikan pengembara kehausan yang melihat sumber air di gurun gersang, aku yang lemah bangkit dengan kekuatan harapan. Aku tahu, pemilik suara sepatu yang kudengar merdu itu adalah dia yang kudamba. Dialah yang akan membasahi hatiku yang kering, dan dialah yang akan menyiram jiwaku yang telah layu.
Aku melihatnya melangkah menuju ke arahku, dengan dengan parasnya yang bersinar. Dari setiap langkahnya, aku merasakan getaran kedamaian, bukan lagi getiran kekalutan. Dia tiba dan berdiri dihadapanku, lalu kami menatap tanpa ragu. Dari sorot matanya yang menawan, aku melihat lukisan masa depan. Aku tidak ingin mengalihkan pendangan. Sesaat, aku merasakan kebahagiaan setelah sekian lama dalam kesuraman.
Hembusan angin kencang pun menghantam wajahku. Dalam kedipan sekejap, dia yang kudamba lenyap begitu saja. Ternyata aku masih sendiri di bukit nyata, dan dia hanya datang dalam mimpiku semata. Diriku yang semula bahagia lantas berubah sedih, kecewa, dan lantas putus asa. Aku menyalahkan sang angin yang tidak tahu apa-apa. Aku berteriak kepada sang angin.
"wahai sang angin, mengapa engkau mengirimku kembali ke dunia nyata?"
"Tidak senang kah engkau melihatku bahagia walau sebentar saja?"
"Tidak kah engkau kasihan melihat pemuda yang kehausan akan cinta?"
Sang angin mengacuhkan teriakanku. Dia telah pergi jauh, membiarkanku yang kini pilu. Aku merasa jiwaku kembali layu, hilang harapan akan impian. Aku pandang kembali sang langit, berharap sinar senja datang lagi untuk menerangi. Namun sepertinya percuma, sinar jingga yang indah itu telah berlalu pergi.
Kini, aku ditemani langit malam dengan hiasan bintang-bintang. Mungkin pula bintang itu telah mati dan hanya menyisakan sinarnya. Dalam keheningan malam, aku mendengar suara dahan yang bergoyang. Aku tahu, sang angin datang kembali.
Aku menyangka sang angin mendatangiku lalu menjawab teriakanku, namun ternyata aku keliru. Sang angin melaju menuju pohon delima, mengusir kelelawar yang hendak memakan buahnya. Melihat itu aku pun sadar, sang angin tidak sejahat yang aku kira.
Pikiranku masih sibuk meraba, sementara sang angin kembali menghampiriku. Namun bukan wajah yang ia tuju, melainkan dada yang berisi jantung hatiku. Aku Tersadar. Aku seperti mendapat hikmah. Aku tahu, sang angin tidak datang tanpa alasan, melainkan atas rencana Tuhan. Aku pun memahami, bahwa Tuhan yang menyuruh sang angin untuk membawaku dari dunia mimpi kembali ke dunia nyata.
Ya, akhirnya aku telah memahami. Selama ini aku hanya membangun mimpi, dan yang nyata aku tak peduli.
Dalam mimpi, dia menyambutku dengan gembira. Dalam nyata, dia mengabaikanku begitu saja.
Dalam mimpi, dia menerimaku dengan hangat. Dalam nyata, dia mengacuhkanku dengan dingin.
Dalam mimpi, Aku menjadi sang Arjuna. Dalam nyata, aku bukanlah siapa-siapa.
Aku tidak melihat kenyataan, karena terbuai dengan impian. Aku memang cinta, tapi dia tidak tak merasa. Aku hanya mencintai, namun tidak dicintai. Cinta membuatku memberi kasih, namun dia menilaiku pamrih. Aku harapkan kebahagiaan, namun hanya sebatas angan-angan.
Aku tercerahkan. Inilah sumber kesuraman yang menghalangiku menemukan kedamaian. Rasa dihatiku adalah cinta, namun cinta yang tak terbalas. Cinta yang kusangka mengalir bahagia, namun ternyata bermuara duka.
Lantas bagaimana aku harus bersikap kepada rasa yang terungkap?. Akankah aku terus berharap kepada yang tak tergapai ?. Bagaimana pula dengan kasih yang tak sampai ? Dan bagaimana aku harus menilai ?.
Aku benar-benar seorang diri, terpaku pada dinding ironi. Namun satu hal yang kutahu pasti, bahwa Sang Ilahi akan selalu mendampingi. Aku tegaskan badanku dan memantapkan langkahku. Aku menuruni jalan bukit yang berbatu, lalu berjalan menuju sebuah surau.
Di surau yang sederhana, aku serahkan diriku kepada sang Pencipta. Aku tegapkan badanku yang lelah. Aku rendahkan kepalaku yang angkuh. Dalam tutupan salam, aku angkat tanganku yang hina. Aku pejamkan mataku yang sayu. Dengan suara yang lirih, aku berdoa dan meminta petunjuk kepadaNya. Aku percaya, cinta yang mengandung lara pasti melahirkan makna.

Posting Komentar
Posting Komentar